Sejarah Perkembangan Paroki

Sejak Paroki Keluarga Kudus diresmikan tanggal 10 Agustus 1940 dan menjadi sebuah paroki, Paroki Keluarga Kudus memiliki peran pastoral mencakup wilayah yang sangat luas terutama ke arah timur dan selatan seiring dengan perkembangan wilayah perkotaan ke arah yang sama. Pelayanan pastoral yang semakin luas sampai wilayah selatan (Lampersari dan Tegalsari) dan wilayah timur (Sendangguwo) di kemudian hari memerlukan pemekaran paroki, sehingga Paroki Keluaga Kudus juga memiliki peran pastoral yang berpengalaman dalam membidani pemekaran paroki.Kondisi saat itu walaupun menaungi wilayah paroki yang luas, tetapi dengan kepadatan penduduk yang relatif kecil dan jumlah umat yang juga lebih kecil tetapi secara signifikan terus mengalami pertambahan. Wilayah perkotaan perifer ini yang berkembang dengan karakteristiknya yang semakin beragam, memerlukan pelayanan pastoral lebih mapan melalui pemekaran paroki.

Dalam perkembangan selanjutnya, wilayah Mater Dei Lampersari ditingkatkan statusnya menjadi paroki mandiri dengan berdirinya gedung gereja pada tanggal 17 September 1968. Selanjutnya pada tanggal 25 Februari 1985, Stasi Gubug yang semula menginduk ke Paroki Purwodadi diserahkan kepada Paroki Atmodirono. Demi pelayanan pastoral yang lebih baik, karena wilayah timur menjadi semakin luas dengan penambahan Stasi Gubug, muncullah pemikiran untuk memekarkan wilayah timur menjadi sebuah paroki. Wilayah timur (Sendangguwo) pun juga mengalami perkembangan pesat, maka dengan adanya Gereja Santo Paulus yang sudah selesai dibangun dan dilakukan pemberkatan pada tanggal 1 Agustus 1992, Stasi Sendangguwo secara resmi menjadi paroki.

Sampai sekarang, Paroki Atmodirono masih melayani Paroki Administratif Santo Mikael Demak. Meski Buku Paroki sudah dipisahkan (Buku Baptis sejak tanggal 2 Mei 1957, Buku Perkawinan sejak tanggal 12 September 1970 dan Buku Krisma sejak tanggal 15 Agustus 1976), sayap penggembalaan Paroki Atmodirono masih menaungi umat di Kota Wali tersebut. Dalam kondisi sekarang ini dimana wilayah paroki sudah tetap dan tidak mempunyai stasi, tetapi terjadi hal yang menggembirakan bahwa pertambahan umat dari tahun ke tahun meningkat.

Demi pengembangan iman umat, di wilayah Tegalsari juga dibangun Kapel Christus Rex (Kristus Raja) yang sampai sekarang sebagai kapel dengan pelayanan misa Mingguan tiap hari sabtu sore. Pada tahun 2012 secara resmi dilengkapi dengan tempat ziarah Gua Maria Talaningsih yang cukup banyak dikunjungi oleh umat, bahkan dari luar paroki Atmodirono sampai luar kota Semarang. Dua tahun sebelumnya, di kompleks Gereja Atmodirono diresmikan pula Gua Maria Mater Familiae (Bunda Keluarga) sebagai sarana berdevosi kepada Bunda Maria dan tempat menyampaikan doa-doa kepada Yesus (per Mariam ad Jesum), sebagai penjiwaan dan spiritualitas Keluarga Kudus. Selain kapel tersebut, ada Kapel Roh Kudus Bangkong yang pada tahun 1932 mengawali sejarah kelahiran Paroki Atmodirono dan menjadi pusat kegiatan para misionaris MSF pertama dimana Kapel Stasi Bangkong ini merupakan bagian dari Paroki Atmodirono Semarang. Sampai saat ini kapel tersebut juga terbuka bagi umat yang ingin menerima pastoral gereja.

Dengan memperhatikan letak paroki dalam kewilayahan kota di atas, maka umat dengan keberagaman status sosial ekonomi yang jugaeragaman status sosial ekonomi yang juga harus berinteraksi dengan penduduk sekitarnya yang dinamis itu perlu diperhatikan melalui pelayanan pastoral aktif dimana lingkungan sebagai pos terdepan. Pelayahan dengan mencermati dinamika perubahan yang ada dari sebanyak mungkin aspek demografi dan geografi. Tata penggembalaan umat yang lebih mengacu pada kebutuhan lapangan yang nyata dan pengelolaan yang semakin tertata diharapkan menghasilkan pelayanan yang dapat menyentuh umat serta memberi hasil yang bermutu.