Tonggak Pertama

Pada tanggal 15 Juni 1931, Mgr. Van Velsen, SJ (Vikaris Apostolik Batavia) meminta kepada Romo Antonius Trampe MSF (pemimpin Umum Kongregasi MSF) untuk membantu langkah misionaris di Pulau Jawa. Maka diutuslah tiga Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dari Belanda. Mereka adalah Romo Mathias J.X. Wilkens MSF, Romo Johannes Van der Steeg MSF dan Romo Nicolas Haverman MSF. Pada tanggal 26 Februari 1932 tibalah mereka di Semarang. Pada waktu itu di seluruh Jawa baru ada satu Vikariat, yaitu Vikariat Apostolik Batavia yang membawahi tiga Paroki Jakarta, Semarang, dan Surabaya. Gereja Santo Yusup Gedangan menjadi pusat Paroki Semarang dengan empat stasi: Karangpanas, Kebondalem, Randusari dan Bangkong. Stasi Bangkong inilah yang diserahkan kepada para Misionaris Keluarga Kudus sebagai tempat untuk memulai karya pelayanan.

Kapel Roh Kudus Bangkong yang menjadi pusat kegiatan para misionaris MSF pertama adalah kapel milik Suster OSF Bangkong. Semula mereka melayani orang-orang Belanda yang beragama Katolik. Dalam perjalanan waktu, umat bertambah dengan masuknya orang-orang Tionghoa dan Jawa yang menjadi Katolik. Pada waktu itu terdapat sekitar 400 keluarga dengan jumlah umat sekitar 2000 orang.

Setiap hari Minggu dan Hari Raya, gereja selalu penuh dengan umat, bahkan kerap kali gereja tidak dapat menampung umat yang hadir. Mengingat keadaan tersebut, para Romo dan beberapa tokoh terdorong untuk memikirkan pengadaan gereja yang lebih memadai. Akhirnya, pada rapat tanggal 31 Oktober 1934, mereka sepakat untuk membeli sebidang tanah di tepi jalan Atmodirono. Lahan yang dikenal dengan sebutan “Land Peterongan” itu luasnya 4000 meter persegi. Berdasar surat ukur no 174/175 tertanggal 7 Juli 1930 dan akta hak tanah no 472 tertanggal 7 Juli 1930, resmilah tanah di Jalan Atmodirono no 8-10 itu menjadi milik gereja.

Maka, mulailah pembangunan gedung gereja di lahan baru tersebut. Berdasarkan catatan Romo Mathias J.X Wilkens MSF tertanggal 16 Januari 1936, gedung gereja akan mempunyai daya tampung sekitar 600 orang. Upacara peletakan batu pertama dilakukan oleh Romo Paroki yang pertama, yaitu Romo Mathias J.X Wilkens MSF pada tanggal 14 Desember 1939. Proses pembangunan gedung gereja berlangsung selama delapan bulan. Dan akhirnya, pada tanggal 10 Agustus 1940 gedung gereja yang baru itu diberkati dan diresmikan oleh Mgr. Willekens SJ (Vikarius Apostolik Batavia) dengan nama Sancta Familia (Keluarga Kudus). Dalam perkembangan selanjutnya, tanah di sekitar gereja dibeli secara bertahap, sebidang demi sebidang, setelah Perang Dunia II selesai.