Tokoh Sejarah Paroki

Tercatat beberapa nama Tokoh-tokoh Perintis yang sudah mengabdikan hidup pelayanan nya untuk perkembangan Paroki Atmodirono. Nama para Tokoh ini dikutip dari berbagai sumber yang sampai saat ini masih aktif maupun yang sudah pensiun, termasuk yang sudah berpulang melalui cerita putra-putri /tokoh seangkatan mereka. Pencantuman nama para tokoh ini tentunya tidak bermaksud mengecilkan peranan dari Tokoh-tokoh lain yang belum sempat disebutkan. :

Bapak T.M.Wibowo, seorang pensiunan TNI yang turut aktif mengisi saat -saat peperangan kemerdekaan, sering bertugas diluar pulau, sehingga meskipun beliau bukan perintis Pemuda Katolik di Paroki Atmodirono, tokoh ini di setiap kesempatan sejak awal masuk Paroki Atmodirono (sekitar th. 1954-1957), selalu aktif bersama para Pemuda Katolik. Terlebih mertua beliau adalah mantan Pejabat Partai Katolik  pada saat itu. Tercatat beberapa nama rekan “seangkatan” Bapak Wibowo dalam Pemuda Katolik ini, antara lain Bapak Sukari, Bapak Slamet (mantan Politikus DPRD saat itu), Bapak Priyo & Bapak Jais  (mantan politikus Partai katolik).  Selain itu ada  Bapak Sujimin (mantan Depnaker) yang menjabat sebagai Dewan Paroki. Kemudian ada juga nama Prof. Johannes Sudarjo, SH.  sebagai perintis Tim Kerja Sosial Simpan Pinjam Paroki yang dimulai sekitar tahun 1970. Prof. Yuniarto (kakak Romo Sadhana) yang menjadi Ketua Mudika Paroki Atmodirono pada tahun 1980 dan sekarang beliau menjadi Ketua Galang Pers Jogyakarta. Kemudian ada mantan Guru SMPN1, pembawa acara di-RRI yang terkenal dengan nama sandi Pak Besut (tahun 1950-an), siaran yang dibawakan beliau banyak sekali penggemarnya.

Lebih lanjut pak  Wibowo mengisahkan, setelah Konsili Vatikan 2 (1962-1965), misa kerap menggunakan bahasa Indonesia & bahasa Jawa. Sebelum itu di setiap misa selalu menggunakan bahasa Latin (seminggu 2 x misa yakni jam 06.00 dan 07.30 ). Pada awal ada misdinar, terjadi “persaingan” antara misdinar Pribumi (diketuai oleh Bapak Wibowo) dan misdinar Keturunan Belanda. Kelompok kelompok doa serta berbagai kategorial tumbuh subur digereja kita, yang pada awalnya memang mencerminkan aktivitas umat yang semakin imani, namun dalam perkembangan nya, sering kali mereka “menutup” diri dengan simbol-simbol bendera/ atribut masing-masing. Hal ini tampak saat acara pertemuan kelompok2 tersebut, dimana bendera-bendera selalu menghiasi ruang pertemuan. Hingga sekitar awal tahun 2000, simbol-simbol tersebut semakin menampakkan “fanatisme kelompok” yang mengarah pada perpecahan, dan akhirnya diputuskan untuk meniadakan semua atribut/simbol apapun agar persatuan & kesatuan didalam gereja tetap terpelihara.

Bapak Yohanes Pujo Wiryono dikenal dengan nama Yan Pujo (alm.) bersama istri telah melayani Paroki Atmodirono sejak tahun 1965 selama lebih dari 40 puluh tahun dan pada 15 tahun pertama, beliau terus menerus aktif sebagai organis gereja bersama sang istri sebagai solis nya, disetiap misa Sabtu & Minggu. Saat pertama menjadi organis di Atmodirono, sebelum menggunakan organ/keyboard, beliau menggunakan alat musik humaniora. Pada saat itu letak koor & organ berada di lantai atas sisi kiri altar (saat ini menjadi gudang), dan posisi Romo adalah membelakangi umat, jadi Romo bersama-sama umat menghadap salib. Sebelum ada organis, solis, koor, Romo sendiri yang menyanyi dan diikuti oleh umat. Bapak Yan Pujo sendiri sebenarnya merupakan generasi penerus dari Bapak Hendro Tamtomo dan Bapak Margono (mantan Guru Domsav). Beliau berdua lebih dulu melayani di Paroki Atmodirono, namun hanya sesaat. Terlebih lagi ayah mertua Pak Yan Pujo yakni Bapak Sambirono adalah tokoh katolik yang cukup disegani pada masa hidupnya. Dalam bidang koor ini, selain Pak Yan Pujo, terdapat nama nama : Bapak Albertus Supanto dan Bapak Sugeng Sugiri (ex.Kep.Sek.St.Yoris) yang peranan nya melayanai koor Paroki tidak diragukan lagi, dengan mendirikan kelompok-kelompok koor pertama di Atmodirono ( “Cantate” yang sampai sekarang masih exist di Wilayah I ). Juga bu Broto, bu Noto & Bapak R.A. Maryoto dengan koor Gregorian nya, turut mewarnai kekayaan koor gereja kita. Banyak karya aransemen mazmur yang beliau ciptakan dan masih sering diperdengarkan hingga saat ini (Ciri khas nya ialah variasi bagian akhir Pasio Jumat Agung).

Dimasa Romo Wignyo memimpin Paroki Atmodirono ada dua peristiwa penting terjadi, yaitu Dewan Paroki Atmodirono pertama kali terbentuk sekitar tahun 1968-an. Peranan dari Bapak Alm.Susanto,  Alm. Sam Aditya, Bu C. Kustini Boestam, Bu Maria Yuliani Wibawanto,, dll untuk pertumbuhan Dewan Paroki juga sangat besar.  Prodiakon pertama dimulai tahun 1986-an. Prodiakon angkatan pertama ada sekitar 20 orang, antara lain  Bapak Mujiman, Bapak Hariyadi, dan Bapak Mikael Slamet. Pembekalan Prodiakon pada saat-saat awal dilakukan selama 1 minggu, sedangkan sekarang hanya dilakukan selama 1 s/d 2 hari saja. Prodiakon wanita pertama ada sekitar tahun 2007-an, yakni Ibu Hariyat. Hal ini terjadi pada saat Prodiakon diketuai oleh Bapak Leo Gunawan, seorang tokoh aktivis Atmodirono yang juga dosen di Unika, hingga saat ini.

Ketua Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Paroki Atmodirono yang pertama adalah Ibu Imram yang kemudian digantikan oleh Ibu Sugihardhono pada tahun 1968. Ibu Sugihardhono ini  selama 15 tahun terus menerus menjabat sebagai DPD WKRI Jateng, salah satu organisasi wanita aktif yang terdaftar di Pemerintah Daerah Jateng.  Suami Ibu Sugihardhono, yaitu Bapak Ricardus Sugihardhono menjabat sebagai Lurah. Atas jasa Bapak Ricardus Sugihardhono ini,  maka Kapel Tegalsari bisa terbentuk dan jalan Tegalsari  terbuka sampai bisa tembus ke RS. Elisabeth (th. 1970-an). Kapel Tegalsari sebelumnya bernama Bong Mayor. Sebelum menjadi kapel, tempat ini merupakan  gedung serbaguna, yang kemudian digunakan untuk  TK. Indrasana.  Prestasi koor dari umat Kapel Tegalsari ini sangat menonjol  sampai  sekarang.  Pada saat dipimpin oleh Bapak Wagiyo (th.1980-an), koor ini sering mewakili Paroki dalam kejuaraan-kejuaraan.

 

Tercatat ada beberapa Romo yang berasal dari (lahir di) paroki Atmodirono :

  1. Romo Aloysius Endro Karyono MSF ( terlahir dengan nama : HIDUP ), adalah putra koster Atmodirono. Beliau wafat di Purwosari tahun 2010.
  2. Romo Rudi Hardhono Pr ( Putera Koster Tegalsari ), saat ini bertugas di Paroki Tanah Mas).
  3. Romo Andang, Putra bapak Kristianus Sukrisman, seorang tokoh di masa-masa awal Dewan Paroki.
  4. Romo Antonius Gunardi MSF
  5. Romo Sari Jatmiko Pr
  6. Romo Albertus Magnus Tan Thian Sing MSF (Romo Sing)
  7. Romo Bernadus Bradja Hartono Saputro MSF (Romo Jajak)

 

Bapak Rukanto dan istri, beliau adalah awam perintis yang bertugas memberi pelajaran agama di Paroki Atmodirono dan menjadi coordinator pembaptisan saat2 awal gereja berdiri, disusul kemudian Bapak Victorianus Sabarun dan istri, BapakTheodorus Murdoko adalah dosen Unika di tahun 1967 (saat itu Unika adalah Universitas Atma Jaya cabang Semarang). kelompok Ibu-Ibu Paroki, Kerawam, Santa Monica, Legio Maria, Maria Congregasi, dan lain-lain.