Tonggak Karya Dan Tantangannya

Pada saat ini Paroki Atmodirono terbagi dalam 9 Wilayah dan 34 Lingkungan. Pada tahun 1960-an, Lingkungan dikenal dengan sebutan BLOK, sedangkan Wilayah dinamakan KRING. Suasana saat banyak Romo Belanda yang berkarya pada masa awal kehidupan menggereja di Paroki Atmodirono, dirasakan sangat diminati oleh umat.

Pusat kegiatan Paroki Atmodirono yang beralamat di Jalan Atmodirono nomer 8. Pada masa lalu, jalan Atmodirono adalah jalan yang sering dilanda banjir, sehingga sering pula misa ditiadakan. Jalan Atmodirono baru mulai ditinggikan sekitar tahun 1990-an. Paroki Atmodirono ini masuk dalam Kelurahan Wonodri Kecamatan Semarang Selatan yang terletak tidak jauh dengan pusat keramaian kota dan sekitar 2,5 km jaraknya dengan Kantor Keuskupan Agung Semarang. Pusat ini juga terletak kira-kira 200 meter dari persimpangan antara jalan utama yang membentang dari utara ke selatan Jalan Letjen. MT Haryono-Jalan Mataram dan jalan utama lainnya yang membentang dari barat ke timur, yaitu Jalan Pandanaran-Jalan Jenderal Ahmad Yani-Jalan Brigjen Katamso. Letak yang demikian strategis inilah menyebabkan pusat ini mudah dijangkau dari seluruh penjuru Kota Semarang, atau bahkan dari luar kota, baik dengan sarana transportasi umum maupun kendaraan pribadi.

Pusat paroki dengan lahan seluas 8.723 m2 ini ditempati oleh bangunan utama Gereja dengan kapasitas umat sekitar 750 orang dan secara memadai dapat diekstensi menjadi 1.000 umat, didukung oleh 3 bangunan lain, masing-masing berlantai 2 untuk menampung semua kegiatan Paroki :

  1. Gedung Pastoran yang digunakan oleh Romo-Romo MSF yang bertugas, seketariat Paroki, Perpustakaan, Toko Paroki yang menjual barang-barang rohani, serta beberapa ruang konsultasi dan ruang rapat Dewan Paroki beserta Tim Kerjanya. Pada tahun 2014, Gedung ini dilengkapi dengan patung Keluarga Kudus yang cukup megah didepan nya.
  2. Gedung Panti Mandala merupakan gedung pertemuan, biasa digunakan untuk kegiatan-kegiatan kategorial, Tim kerja, Seminar, Rapat Pleno, Perkawinan, dll.
  3. Gedung Kristiani merupakan bangunan serba guna. Lantai atas digunakan untuk kegiatan olahraga, sedangkan lantai bawah digunakan untuk lahanNama gedung diambil dari nama umat yang menghibahkan Tanah untuk gedung ini sekitar tahun 2008 yakni Alm. Ibu Kristin Sandralika.