Tonggak Kemerdekaan

Umat beriman di Paroki Atmodirono sadar akan keberadaannya di tengah-tengah bangsa Indonesia yang sedang berjuang. Karena itulah, mereka tidak berdiam diri. Menurut kesaksian para sesepuh paroki, saat terjadi perang Dunia II sebagian besar umat bergabung untuk memperjuangkan kemerdekaan. Masuknya Jepang ke kota Semarang membuat para Romo Belanda yang ada ditangkap. Karena aktivitas umat terarah pada usaha perjuangan untuk membela negara, gereja menjadi sepi. Di saat itulah muncul para sukarelawan untuk menjaga gereja dan pastoran agar tidak direbut oleh tentara Jepang.

Lonceng gereja Atmodirono dipasang sekitar tahun 1950.

Demikian juga, sewaktu terjadi pemberontakan G30S PKI (1965), peran umat juga nampak. Gedung Panti Mandala di samping gereja dijadikan base camp umat katolik untuk melawan aktifitas PKI. Disitulah para pemuda katolik dan simpatisannya memperkuat keimanan dan rasa nasionalisme. Dari situ jugalah mereka menentukan strategi untuk menaklukan gerakan PKI. Jelaslah, umat Paroki Keluarga Kudus Atmodirono tidak berpangku tangan melihat keadaan bangsa ini. Bersama-sama dengan rakyat Indonesia lainnya, mereka senyatanya ikut andil dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.