Sejarah Paroki

26 Februari 1932, Tiga Misionaris MSF dari Belanda tiba di Pulau Jawa. Mereka adalah Matthias Johannes Xaverius Wilkens MSFJohanes Van Der Steegt MSF, dan Nicolas Havenman MSF. Kepada mereka diserahkan Stasi Bangkong sebagai tempat berkarya, dengan wilayah pelayanan sampai ke daerah Kudus dan Pati. Pada saat itu, Paroki Semarang atau yang sekarang menjadi Paroki Gedangan, memiliki 3 stasi, yaitu Stasi Randusari, Stasi Candi, dan Stasi Bangkong. Sebagai Gedung Gereja pada waktu itu ialah Kapel Susteran OSF di Bangkong, yang masih kita kenal sampai sekarang.

Dengan hadirnya ketiga imam misionaris ini, Stasi Bangkong kemudian menjadi Paroki Bangkong. Ketiga misionaris tersebut tinggal di sebuah rumah di Jl. Bangkong No. 28, yang di kemudian hari menjadi milik dr. Heyder, dan sekarang di atas tanah tersebut berdiri sebuah gedung perkantoran. Dua hari setelah kedatangannya, pada tanggal 28 Februari 1932, yang merupakan minggu ketiga dalam masa parapaska, ketiga imam misionaris ini mempersembahkan perayaan ekaristi mereka yang pertama di Paroki Bangkong yang pada saat itu memiliki sekitar 2.000 umat.

Pada tanggal 12 Maret 1932, Romo Nicolas Havenman MSF menerimakan sakramen permandian yang pertama di paroki tersebut. Sehari setelahnya, pada tanggal 13 Maret 1932, romo Matthias Wilkens MSF juga menerimakan sakramen permandian, dan menyusul Romo Johanes Van Der Steegt pada tanggal 26 Maret tahun itu juga. Beberapa saat kemudian, para romo berpindah tempat tinggal ke sebuah rumah yang letaknya lebih dekat dengan susteran, yang di kemudian hari berpapan nama Ja’Mu-Alim, dan saat ini kita mendapati sebuah rumah makan berdiri di atas tanah tersebut. Hanya sebentar mereka menempati rumah tersebut, dan berpindah lagi ke Jl. Peterongan No. 38, yang kemudian menjadi Jl. dr. Cipto No. 296, dan saat ini menjadi sebuah rumah sakit swasta.

Sehubungan gereja paroki yang digunakan pada waktu itu adalah kapel susteran, maka para romo memikirkan pendirian gedung gereja yang baru. Kemudian dibelilah sebidang tanah seluas 4.000 meter persegi di tepi jalan Atmodironoweg pada tanggal 6 Agustus 1935. Lahan tersebut dikenal dengan sebutan Land Peterongan.

Berdasar catatan Rm. Wilkens tertanggal 16 Januari 1936, gereja yang akan dibangun direncanakan memiliki daya tampung 600 orang. Tinggi 18 meter, panjang 41 meter, lebar luar 25 meter, lebar dalam 17 meter, menara setinggi 23,5 meter dengan salib di puncaknya setinggi 2,5 meter, dan denah gedung berbentuk salib. Peletakan batu pertama dilaksanakan pada 14 Desember 1939 oleh Rm. Wilkens.

Proses pembangunan gereja berlangsung selama delapan bulan lamanya. Hingga akhirnya, 10 Agustus 1940 gereja dan pastoran diresmikan dan diberkati oleh Mgr. Willekens SJ, selaku Vikaris Apostolik Batavia. Gereja tersebut ditempatkan di bawah perlindungan “Sancta Familia” atau Keluarga Kudus.

Peristiwa inilah yang bersama kita peringati pada hari ini. Delapan puluh satu tahun gedung gereja ini berdiri. Semoga kita senantiasa dimampukan untuk menebarkan kebaikan dan memancarkan kasih. (10-08-2021)